Takengon – Sejumlah petani ternak kerbau dan sapi resah di dataran Gayo resah. Sebulan ini puluhan ternak kerbau mati mendadak di empat kecamatan, Bintang, Kebayakan, Linge dan Jagong Jeget.
Seorang peternak, M.Amin, warga Mendale Kecamatan Kebayakan kepada The Globe Journal, Kamis (28/5) mengungkapkan kerisauannya. “Sudah puluhan ternak kerbau yang mati secara mendadak milik warga Mendale dan dibeberapa tempat lainnya di Aceh Tengah,” kata M. Amin.
Amin resah, anak kerbau miliknya berumur 3 bulan mati mendadak. Beberapa kerbau lain milik warga kampung juga mati, antara lain kerbau milik Aman Ardi 1 ekor jantan, Aman Ima 1 ekor betina, Aman Sofyan 4 ekor betina, Aman Sudar 3 ekor, Aman Rusda 5 ekor dan kerbau milik Aman Hilman 1 ekor.
Menurut Amin, sebelum mati, dari hidung kerbau keluar cairan bening, mulut berbusa dan leher membengkak. “Kami sangat resah, nama penyakitnya saja belum jelas, padahal sudah sudah lebih dua minggu sampel ternak dikirim oleh dinas terkait ke Medan.” kata Amin bernada kesal.
Keresahan peternak juga dirasakan masyarakat Paya Serngi Kecamatan Kebayakan yang dikenal sebagai kawasan lumbung ternak di Aceh Tengah.Ruhdi, seorang peternak di Paya Serngi mengaku merasa betul-betul resah dengan serangan penyakit ternak di Aceh Tengah.
"Seekor ternak sangat berharga bagi kami karena merupakan tumpuan harapan dan tabungan bagi kami warga kelas bawah, jadi mohon perhatian serius dari pihak terkait dalam menangani kasus ini," harap Ruhdi.
Ruhdi mengakui pihak Keswan dinas terkait sudah lakukan upaya-upaya pencegahan khususnya di kampung Paya Serngi. Akan tetapi mungkin belum maksimal ditempat lain sehingga terjadi kasus kematian ternak secara massal tanpa sempat dicegah.
"Pihak lain selain praktisi peternakan didaerah ini juga diharapkan memahami persoalan, terutama terkait anggaran pendukung peningkatan kinerja petugas," harap Ruhdi.
Menanggapi kasus ini, Drh. Emy Linggawani, Kasi Kesehatan Hewan dan Masyarakat Veteriner Dinas Pertanian, Peternakan dan Perikanan Aceh Tengah (28/5) yang ditemui di ruang kerjanya mengatakan sudah melakukan upaya-upaya pencegahan berupa vaksinasi sejak 2 bulan terakhir.
“Sekitar 1000 ekor ternak sapi dan kerbau sudah diperiksa kesehatannya dan dilakukan vaksinasi penyakit Septicemia Epizootica (SE) atau lebih dikenal sebagai penyakit Ngorok,” kata Emy.
Menurut Emy, pihaknya sudah keluarkan pengumuman bulan April lalu menjelang dimulainya musim panen padi yang berisi himbauan kepada pemilik ternak melalui kepala kampung agar mengumpulkan ternak disuatu tempat untuk divaksinasi dan diperiksa kesehatannya.
“Penyakit Ngorok atau SE menular sangat cepat, dalam hitungan 8 – 24 jam ternak yang terserang akan langsung mati. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Pasteurella Mulloci dan biasanya mewabah saat musim pancaroba seperti ini,” jelas Emy..
Adapun gejala-gejalanya, lanjut Emy, terjadi pembengkakan di wajah dan persis dibawah tenggorokan, lidah menjulur berwarna biru, susah bernapas, salivasi atau air liur yang berlebihan, ternak terlihat lemah dan enggan bergerak, keluar cairan lender dari hidung, suara ngorok dan napas berat serta perut kembung.
Untuk kepastian jenis penyakit, menurut Emy, sejak bulan Maret pihaknya sudah 3 kali mengirimkan sampel ke Balai Penyidik Penyakit Veteriner (BPPV) Regional I Medan.
“Maret lalu, kita kirimkan sampel ternak mati dari Serule Kecamatan Bintang, kemudian 17 Mei lalu sampel dari Mendale kecamatan Kebayakan dan terakhir, 26 Mei sampel ternak mati dari Owaq Kecamatan Linge. Akan tetapi sampai hari ini kita belum terima hasil pemeriksaan dari BPPV,” keluh Emy.
Secara terpisah, Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Peternakan, Drh. Rahmandi (28/5) menyatakan sudah mengantisipasi penyebaran penyakit yang diduga SE tersebut.
“Kita melakukan penyuntikan vaksin dan vitamin terhadap ternak warga dibeberapa tempat secara maraton,” kata Rahmandi.
Rahmandi juga mengaku kecewa atas belum diterimanya hasil analisa penyakit ternak dari BPPV Regional I Medan. “Kita sudah kirimkan sample hewan yang mati untuk diteliti. Tapi hingga kini kita belum mendapat laporannya,” Keluh Rahmadi.
Puluhan Ternak Mati Mendadak, Peternak Gayo Resah
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 komentar:
Post a Comment
Silahkan Hubungi Kami.... / Please Contact Us....