UTUSAN Dinas Perindustrian Primer Negara Bagian Victoria, Australia Dr. John Morand, menawarkan teknologi mempercepat bibit sapi beranak. Dalam kunjungan kerja sehari di Karangasem Kamis (2/3), ahli makanan ternak itu mengaku tertarik dengan potensi pengembangan sapi di bumi lahar itu. Menurut John, hasil penggemukan sapi, serta sapi perah di Desa Talibeng, Sidemen lebih baik dibandingkan di negaranya. Bagi John, ketersediaan pakan ternak sapi sepanjang tahun menjadi hal paling penting. Pakan sapi bisa memanfaatkan berbagai rumput dan tanaman lokal.
Guna memenuhi kebutuhan pakan pada musim kemarau panjang, kata Kabag Humas dan Protokol Setda Karangasem Drs. Made Sosiawan, juga bisa dilakukan dengan teknologi pakan, seperti membuat hay, silasa atau menanam sediaan pakan ternak sapi dengan sistem tiga strata.
John mengatakan bibit sapi betina bisa dipercepat waktu awal beranaknya. Selama ini sapi betina lokal Bali baru bisa beranak setelah umurnya sekitar tiga tahun. Namun, dengan teknologi pakan dan pemeliharaan yang baik dan inseminasi buatan, bisa dipercepat menjadi dua tahun. Dengan cara itu, diharapkan bisa lebih mempercepat populasi dan memperoleh sapi bibit.
Selain itu, katanya, kandang ternak tak bisa dicampur dengan kambing atau pun babi. Soalnya, hewan yang dicampur atau kandangnya berdekatan akan saling mempengaruhi pertumbuhannya menjadi tak optimal. Soalnya, jenis ternak yang berbeda jika berdekatan atau bahkan dicampur dalam satu kandang, akan saling merasa tak nyaman. Mereka merasa stres karena khawatir pakannnya bakal habis direbut, sering bertengkar bahkan saling menularkan bibit penyakit.
Sementara itu, Wabup Rai yang mendampingi John meninjau sejumlah lokasi peternakan sapi di Karangasem menyampaikan, peternakan sapi masih cukup berpotensi dikembangkan di Karangasem. Selama ini, Karangasem dikenal sebagai penghasil produk ternak sapi. Ternak itu menjadi salah satu andalan perekonomian lebih dari 60 % masyarakat petani di Karangasem. Ternak itu juga berfungsi sebagai tabungan petani. Saat mereka mendesak memerlukan uang dalam jumlah cukup besar, biasanya ternak sapi miliknya menjadi harapan untuk dijual. Mereka bisa mendapatkan uang Rp 2 juta sampai Rp 5 juta dengan cuma menjual seekor ternak sapinya.
Kendala
Diakui pemasaran ternak, termasuk kemungkinan permainan saudagar (calo) sapi bisa saja mempermainkan petani ternak. Selama ini baru ada dua pasar hewan di Karangasem yakni di pasar hewan Rubaya, Kubu dan Bebandem. Namun, kendala itu ditanggulangi pemerintah dengan membuka lagi sebuah pasar hewan di Desa Pempatan, Rendang Karangasem yang direncanakan mulai dibangun secara bertahap tahun ini.
Pasar hewan di desa penghasil ternak sapi cukup penting di Karangasem itu diharapkan menjadi tempat transaksi antara pembeli dan peternak tak cuma di Karangasem tetapi juga di Bangli dan Klungkung. Pasar hewan itu nantinya juga diharapkan menjadi pemasok rumah potong hewan (RPH) sapi bertaraf internasional yang sudah dibangun Pemkab Gianyar di Desa Temesi. RPH itu juga diharapkan lebih cepat bisa dioperasikan.
Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan, Kelautan dan Perikanan Karangasem Ir. Nengah Mantha Ekayuda menyampaikan populasi sapi di kabupaten ujung timur Bali itu terus meningkat. Tahun 2004 terdapat 144.027 ekor sapi, meningkat 1.000 ekor lebih pada 2005 menjadi 145.417 ekor. Produksi daging sapi tahun 2004 dilaporkan mencapai 2.851.456 ton.
Belakangan kata Mantha, makin banyak tumbuh usaha penggemukan sapi. Sapi tak hanya menjadi tabungan andalan bagi perekonomian sebagian besar masyarakat, tetapi juga dimanfaatkan untuk mengolah lahan pertanian seperti membantu petani untuk membajak sawah dan ladang. ''Karena sulit mendapatkan air dan pakan, petani ternak sering mengobral ternasknya menjelang musim kemarau. Selain itu, karena ternak sapi kurus kering dan tak kuat dipakai menarik bajak menjelang musim tanam pada awal turun hujan, dua orang manusia sering disuruh menarik bajak menggantikan sapi,'' ujar anggota Dewan asal Kubu Nyoman Oka Antara.
Anggota DPRD Karangasem asal Kubu lainnya, Gede Putu Bagiarpa mengatakan perlu diatasi kendala peternakan sapi di daerah kering seperti Kubu, sebagian desa di Kecamatan Abang dan Seraya. Soalnya, saat musim kemarau panjang peternak mengalami kendala sulitnya mendapatkan air untuk minum ternak. Selain itu, petani juga mesti terus didampingi guna bisa menerapkan teknologi tepat guna penyediaan pakan ternak. Jaminan keamanan hewan ternak dari pencurian atau perampokan juga sangat diperlukan. Selama ini, warga Kubu kerap waswas dengan keamanannya dari pencurian atau pun perampokan pelaku bertopeng ala ninja.
Sementara, kotoran sapi dipakai pupuk kandang atau organik yang kian dilirik untuk pertanian ramah lingkungan.
Selain mencanangkan pertanian ramah lingkungan Bupati Karangasem Wayan Geredeg juga berobsesi memanfaatkan kencing sapi dipakai biourine untuk penyubur tanaman. Proyek percontohan biourine sapi sudah dibuka pada sebuah kelompok tani sapi di Desa Buana Giri, Bebandem.
Australia Tawarkan Teknologi Percepat Sapi Beranak
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 komentar:
Post a Comment
Silahkan Hubungi Kami.... / Please Contact Us....